Dirikan LSM Buruh Migran yang Bergerak di Bidang Kesehatan

KEPEDULIAN Lily Pujiati terhadap nasib para buruh migran tak lepas dari apa yang dialaminya saat mengadu nasib ke Taiwan, beberapa tahun silam.
Dia bercerita, pada 2000 berangkat ke Taiwan melalui salah satu PPTKIS di Surabaya, Jawa Timur.”Dokumen semua dipalsukan mulai dari nama dan alamat, karena ketidaktahuan yang membuat saya mau saja diberangkatkan dengan identitas yang bukan sebenarnya,” aku koordinator Peduli Buruh Migran itu.

Sampai di Taiwan, lanjutnya, pekerjaan yang dijanjikan tidak sesuai dengan kenyataan. “Janji PT dipekerjakan di rumah sakit dengan merawat orang tua, namun semua itu hanya janji saja, karena sesampai di Taiwan dipekerjakan di perkebunan sayur,” ujar perempuan asal Jawa Timur, itu kepada INDOPOS, kemarin (20/9) .

Karena tidak tahan dengan pekerjaan yang dibebankan, perempuan yang kini tinggal di Pisangan, Jakarta Timur, itu minta dipulangkan ke Indonesia. “Namun majikan tidak mau dengan alasan bahwa saya sudah dibayar ke agen, lalu saya dibawa ke agen lain untuk dipindahkan pekerjaan tapi tetap sama diperkebunan. Sepuluh hari bekerja saya tidak tahan dan saya tetap minta dipulangkan ke Indonesia,” terangnya.

Karena semua dokumen ditahan oleh mandor, maka dia mengambil paksa. Dengan bermodal paspor, Pujiati lari ke kantor KDI dengan harapan bisa dibantu pulang ke Indonesia. Namun, dia malah dikembalikan ke agen dan selanjutnya diserahkan ke penjara dengan alasan mencuri dokumen.

Alhasil, keinginannya berangkat ke Taiwan untuk mencari uang gagal total.
“1 bulan bekerja, 10 bulan mendekam di penjara tanpa melalui persidangan, karena dituduh melakukan tindakan kriminal,” ujar perempuan kelahiran Oktober 1972 itu.

Setelah bebas dari penjara, Pujiati dipulangkan ke Indonesia. “Beruntung saya bertemu salah seorang Komisioner Komnas Perempuan dan mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Saya diajak ke salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang menangani masalah buruh migran untuk belajar.

Bantu-bantu di bagian staf advokasi, sampai jadi koordinator advokasi. Saya di situ sekitar 4 tahun,” imbuhnya.
Pujiati tidak kenal lelah untuk belajar memberikan bantuan advokasi pada kawan-kawan buruh migran yang bermasalah.

Namun, perjuangannya sempat terhenti lantaran terkenan stroke. “Mungkin karena terlalu lelah, banyak kasus, hingga lupa makan dan kurang tidur,” imbuhnya. Setelah melakukan pengobatan, sekitar 3 bulan dia pulih.
Dia pun bertekad untuk terus membantu dan berbagi pengalaman dengan para buruh migran yang sedang dalam masalah.

“Pada 2008 saya mendirikan LSM yang namanya Peduli Buruh Migran (PBM), berkat bantuan dari Yayasan Nurani Dunia dan Perkumpulan Sahabat Insan, saya bisa menjalankan organisasi dengan kawan-kawan,” jelasnya.

Pujiati mengaku, lebih tertarik membuat LSM yang bergerak di bidang kesehatan buruh migran karena selama ini banyak buruh migran yang sakit tidak ada yang membantu dan mendampingi. “Di LSM saya ada Mobile Clinic dan juga mempunyai rumah singgah untuk kawan-kawan buruh migran yang sedang dalam proses pemulihan kesehatan,” terangnya.

Kegiatan rutin yang dikerjakan Pujianti adalah mendampingi para buruh migran yang dirawat di rumah sakit rujukan pemerintah, juga membantu untuk memberikan bantuan advokasi. (zul)

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 21 September 2011

Sumber: https://zulnaalqudsy.wordpress.com/2011/09/22/dirikan-lsm-buruh-migran-yang-bergerak-di-bidang-kesehatan/

Leave a Reply