In Memoriam: Romo Ignatius Sumarya, SJ

Pagi ini, 27 Oktober 2013 kami mendapat kabar wafatnya Romo Ignatius Sumarya, SJ.

Tidak terasa sudah sejak tahun 2008, Peduli Buruh Migran telah mengenal Romo Ignatius Sumarya, SJ. Sosok sederhana yang akrab disapa Romo Maryo telah berbela rasa dan kasih dalam menolong buruh migran (TKI). Pertama kali kami diperkenalkan dengan beliau melalui tangan kasih Romo Ignatius Ismartono SJ.

Pada saat itu di awal September 2008, kami kebingungan ketika sedang menolong seorang buruh migran yang meninggal. Dalam kebingungan itu kami akhirnya dipertemukan dengan Romo Maryo. Beliau kemudian memberikan bantuan dengan meminta kami untuk membawa jenasah ke Rumah Duka St. Carolus.

Di sana Romo Maryo mengatakan kepada kami bahwa segala urusan tidak akan dikenakan biaya apapun. Pelayanan dalam pengurusan jenasah diberikan mulai dari pemulasaran jenasah, mendatangkan ustadz untuk mendoakan jenasah, menyediakan mobil jenasah, membantu penyediaan peti mati, hingga tempat pemakaman di Pondok Ranggon Jakarta Timur.

Kami merasakan hari itu menjadi begitu mudah bagi kami setelah sebelumnya kalut dalam kebingungan harus meminta bantuan kepada siapa. Bila kami seringkali meminta mukjizat saat dalam kebingungan mengurus buruh migran, mungkin tanpa terasa sebenarnya mukjizat itu selalu datang tanpa kami sadari, seperti halnya pada hari itu.

Sebelum matahari meninggi, sesaat sebelum berangkat ke tempat pemakaman, Romo Maryo mengatakan bahwa beliau akan ikut dalam mobil jenasah bersama kami. Hal itu membuat kami kaget dan tidak kami duga-duga sebelumnya.

Karena setahu kami Romo Maryo juga mengurusi Rumah Duka St. Carolus yang tentu akan sibuk sekali. Dan beliau juga tidak mengenal siapa orang yang akan di antarnya itu menuju ke tempat peristirahatan terakhir. Saat itu kami hanya bisa mengambil satu kesimpulan sederhana, karena beliau adalah orang baik.

Setelah peristiwa itu, bila ada jenasah buruh migran yang tidak mendapatkan bantuan dari pihak lain, kami selalu menghubungi Romo Maryo.  Dan seperti biasa, beliau dengan tangan terbuka selalu memberikan bantuan yang kami perlukan seperti dengan memberikan peti mati secara cuma-cuma.

Bila saat ini Romo Maryo meninggal dunia, kami meyakini bahwa Romo Maryo akan diantarkan oleh orang-orang yang mungkin tidak dikenalnya ke tempat peristirahatan terakhir. Dan kami juga meyakini bahwa Romo akan bertemu dengan orang-orang terbuang yang selama ini beliau kasihi, tentunya dalam suasana yang berbeda, kekal dan damai.

Romo Maryo, budi baik Romo menjadi inspirasi dan semangat kami untuk mengasihi sahabat-sahabatNya yang tidak kami kenal, orang-orang terbuang.

Terima kasih Romo Maryo, selamat jalan, sampai kita bertemu lagi.

Lily Pujiati (Koordinator, Peduli Buruh Migran)

Foto Peduli Buruh Migran: Romo Ignatius Sumarya, SJ dengan kemeja biru berdiri dekat mobil jenasah saat mengantar jenasah buruh migran ke TPU Pondok Ranggon Jakarta Timur.

Leave a Reply