Peduli Buruh Migran Usut “Trafficking” TKI Ngawi


Ngawi – Peduli Buruh Migran menyatakan, berencana mengusut kasus dugaan “human trafficking” atau perdagangan manusia yang menimpa seorang tenaga kerja Indonesia asal Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Supriyati alias Yuliana (23).

“Kami akan mengusut tuntas kasus dugaan ‘human trafficking’ yang menimpa Supriyati alias Yuliana, dengan menggandeng pihak-pihak terkait seperti Kementerian Sosial dan Tenaga Kerja, bahkan kepolisian,” ujar Kordinator Peduli Buruh Migran (“Caring for Migrant Workers”), Lily Pujiati, saat dihubungi melalui telepon, Kamis.

Menurut dia, kasus yang menimpa Supriyati alias Yuliana tergolong “human trafficking”. Hal ini dibuktikan dengan pemalsuan identitas dan perekrutan yang bersangkutan saat hendak bekerja menjadi TKI di Malaysia pada tahun 2004.

Supriyati telah diberangkatkan oleh sponsor atau calonya ke Malaysia saat usianya masih 16 tahun. Namun, oleh calonya tersebut, identitas Supriyati diganti nama menjadi Yuliana berikut juga usianya dibuat seakan korban telah dewasa, yakni 21 tahun.

“Perbuatan ini tergolong tindak pidana ‘human trafficking’, karena pengiriman anak ke luar dan dalam negeri tidak diperbolehkan. Karena itu, kami terus mendesak Disnakertrans setempat dan pihak terkait untuk mengusut kasus dugaan penjualan manusia ini berikut pemalsuan identitas TKI tersebut,” ucapnya, menegaskan.

Rencananya, dalam waktu dekat ia akan melayangkan surat permintaan pengusutan kepada pihak-pihak terkait, agar kasus ini ditindaklanjuti. Pihaknya, juga berencana terus melakukan pendampingan terhadap Supriyati alias Yuliana yang saat ini telah berada di kampung halamannya di Desa Gentong, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi.

Kondisi Supriyati saat ini sedang sakit. Setiba di Tanah Air, Supriyati menjalani perawatan selama satu bulan di Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta Timur, hingga akhirnya dipulangkan ke Ngawi pada Rabu (23/3) dengan didampingi oleh Peduli Buruh Migran.

Berdasarkan penelusuran Peduli Buruh Migran, Supriyati bekerja sebagai TKI melalui perwakilan Perusahaan Pengerah Tenaga Kerja Indonesia (PPTKI) PT Amira Prima di Kabupaten Madiun atas rekomendasi Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Madiun.

Setelah itu Suriyati bersuamikan warga Bangkok, Thailand, yang dikenalnya selama menjadi pembantu rumah tangga di Malaysia. Namun, suaminya meninggal dunia akibat sakit HIV/AIDS dua tahun lalu. Setelah itu, status korban menjadi terlantar. Korban lalu ditangkap oleh polisi Thailand karena tidak memiliki dokumen resmi dan sempat dipenjara.

31 Mar 2011 11:20:15
Penulis : Louis Rieka
Foto: Peduli Buruh Migran
Sumber: Antara Jatim

Leave a Reply