Dua Minggu Jadi TKW, Pulang Tinggal Nama


Ponorogo–Cita-cita boleh tinggi, namun takdir berkata lain. Belum genap dua minggu bekerja di negeri Singapura, Sari, Tenaga Kerja Wanita (TKW)asal Ponorogo pulang sudah terbujur kaku dalam peti jenazah. Korban, warga RT.02/Rw.01, Dusun Krajan, Desa Singkil, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo ini diketahui tewas akibat jatuh dari lantai 12, di apartemen majikannya, di Singapura.

Menurut Ignatius Nere, dari pihak PTP PT PJTKI, Sari bekerja sebagai pembantu rumah tangga di kediaman Noorkiyah Binte Mohammed Noor, yang beralamat di BLK.Telok Blangah Heights ,Sari diketahui tewas akibat terpeleset, dari lantai kemudian jatuh dari ketinggian 12 lantai yang mengakibatkan korban meninggal dunia.

Sementara itu, pihak keluarga yang mengetahui kematian Sari terlihat shock. Joko, kakak kandung korban, mengaku kaget mendengar kematian mendadak adiknya tersebut. “Saya ketika hari Selasa(25/5) sekitar pukul 12.00WIB didatangi pak Kateno yang membawa kabar kalau Sari meninggal.Kami sekeluarga kaget dan shock karena belum ada kabar kalau Sari sudah terbang tahu-tahu meninggal, kan adik saya baru sebulan lebih meninggalkan rumah, dia berniat ingin bahagiakan ibunya , malah meninggal duluan,” ujar Joko.

Sari dimata keluarga dikenal sebagai anak pendiam dan penurut. Suasa kian haru saat kedatangan jenazah korban di rumah duka. Ketika peti jenazah di buka karena pihak keluarga ingin menyaksikan wajah terakhir korban, Waginem, kakak korban teriak histeris dan pingsan.

Sari yang berangkat menjadi TKW melalui PT. Tistama Arga Raya (PT.TAR)yang beralamat di JL.Matraman Raya 10 Jak- Tim, melalui Kateno ,57,warga Desa Gupolo, Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorogo, selaku Sponsor atau PL nya PT.TAR yang di Ponorogo. “Sari ini baru 42 hari berangkat dari rumah dan langsung saya antar ke penampungan di Jakarta dan sebulan di Penampungan ia langsung berangkat, dan pada tanggal 2 Mei lalu dia terbang ke negara tujuan,” ungkap Keteno.
Sementara itu, Pihak PTP PJTKI juga menyerahkan santunan berupa uang tunai sebesar lima juta rupiah dan 250 dolar Singapura dari agensi di Singapurake pihak keluarga.

Gaji korban tidak jelas

Nerre ketika di konfirmasi terkait hak-hak yang harus diterima oleh korban, menjelaskan bahwa pihaknya akan mengurus semua pembayaran klaim asuransi dalam negeri korban. Sedangkan untuk ausransi di luar negeri yang seharusnya diterima korban, akan diurus usai persidangan di Singapura. Namun, saat disinggung mengenai gaji yang harus diterima korban Nerre tidak tahu-menahu. “Untuk hak-hak Sari akan kami urus khususnya asuransi dari dalam negeri sedang yang asuransi dari luar negeri kita tunggu sidang di pengadilan Singapura, sedang untuk gajinya selama 12 hari di sana kami tidak tahu, karena saya hanya bawa santunan itu,” kata Nerre.

Sumber : Surya
Foto : Surya

Leave a Reply