Ratifikasi Konvensi Migran, Kemerdekaan bagi BMI


18 Agustus 2009 – 14:43 WIB

Kurniawan Tri Yunanto

VHRmedia, Jakarta – Kondisi buruh migran Indonesia di luar negeri sampai saat ini memprihatinkan. Banyak kekerasan dan diskriminasi terhadap BMI, akibat negara belum meratifikasi Konvensi Buruh Migran. Bertepatan Hari Kemerdekaan, buruh migran mendesak Susilo Bambang Yudhoyono, presiden terpilih, segera memerdekakan buruh di luar negeri.

Lily Pujiati, koordinator aksi dari Aliansi Rakyat untuk Ratifikasi Konvensi Migran 1990, mengatakan konvensi ini merupakan bentuk perlindungan bagi buruh migran di negara tempat bekerja. “Kalau Indonesia meratifikasi, perlindungan yang diberikan negara di mana buruh bekerja, akan nyata,” kata Lily dalam aksi di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Selasa (18/8).

Sejak akhir 1970 buruh pekerja migran Indonesia yang bekerja di luar negeri terus meningkat. Setidaknya pada periode 2006-2008 jumlah BMI mencapai sekitar 700 ribu per tahun. Di sisi lain, kekerasan yang terjadi juga terus meningkat. Banyak BMI yang dideportasi tidak bisa pulang karena tidak ada uang. Banyak pula BMI yang meninggal akibat kekerasan majikan.

“Lebih parah lagi pemerintah tidak pernah memperhatikan itu. Hari ini kita turun ke jalan agar pemerintahan SBY meninggalkan warisannya di era 2004. Periode depan, kita minta agar pemerintah segera merativikasi konvensi migran,” kata Lily.

Menurut Lily, selain memberikan perlindungan bagi pekerja migran, Konvensi Migran 1990 juga memberikan perlindungan kepada anggota keluarga buruh migran. Konvensi ini juga meniadakan diskriminasi terhadap pekerja migran dan keluarganya. Hal itu sejalan dengan prinsip kemerdekaan, perdamaian, dan keadilan sosial, seperti diatur dalam UUD 1945.

“Memang sepertinya tidak ada niatan dari pemerintah untuk memperbaiki nasib buruh migran Indonesia. Pemerintah hanya memeras dan mengambil devisanya tanpa ada perlindungan. Tapi kita akan meminta terus agar buruh migran dimerdekakan, seperti halnya perayaan 17 Agustus,” kata Lily.

Dalam aksi unjuk rasa di Bundaran HI ini para BMI membentangkan spanduk dan menggelar aksi teatrikal menggambarkan nasib pekerja migran saat pulang ke tanah air menjadi gila, meninggal, atau cacat di atas kursi roda. Itu semua akibat berat beban yang ditanggung tanpa ada perlindungan sedikit pun. (E4)

Foto: iddaily.net

Leave a Reply