Buruh Migran Melahirkan Di atas Kapal


Ani Pangadi bekerja di Malaysia baru 1 tahun. Ia pergi menyusul suaminya yang sudah lama bekerja di sana, tepatnya di Kuala Lumpur. Mereka mengontrak bilik kecil di dekat tempat bekerja sang suami. Karena ia merasa mampu bekerja akhirnya buruh migran asal Lumajang ini bekerja di Kedai Makan dengan gaji RM. 150 / bulannya. Dua bulan lamanya bekerja sebagai TKI di Negeri Jiran, ia mengandung. Dalam keadaan janin yang bertumbuh di dalam rahimnya, ia masih saja tetap bekerja. Suatu ketika saat berangkat kerja, saat kandungannya berumur 5 bulan, tas kecil berisi paspor serta uang maupun dokumen lainnya dirampas orang. Di tangannya pun sudah tidak dimilikinya dokumen apapun.

Bulan ke bulan dilaluinya tanpa ada masalah. Setiap ada razia, ia cukup memberikan uang RM. 50 pada polisi yang berpatroli. Namun malang ketika kandungan sudah berumur 8 bulan, saat bekerja, Ani tertangkap polisi dan langsung digelandang ke kantor imigrasi. Tanpa ampun dan tidak diberi kesempatan untuk menemui suaminya ia dijatuhi hukuman selama 25 hari.

Pertama kali ia dimasukkan di Penjara Sepang selama 13 hari. Setiap hari ia disuruh berdiri menghadap tembok selama 1 jam. Ani dihukum seperti itu 6 kali dalam sehari. Dari Sepang ia dipindahkan lagi ke Penjara Leungging. Di sini ia tidak luput dari baris-berbaris walaupun perutnya sudah membesar, polisi tidak mau tahu. Setiap hari ia harus berbaris selama 2 sampai 3 jam. Dua belas hari di Leungging kemudian ia dibebaskan. Ia dibawa ke Pasir Gudang selama 2 hari dan dibuang ke Tanjung Pinang. Ia menginap selama 1 hari lalu dipulangkan ke Tanjung Priok.

Pada Hari Jumat, 12 Juni 2009, di saat ia berada di Kapal Sirimau, perutnya terasa sangat sakit. Tak berapa lama ia melahirkan di kapal itu tepatnya pada jam 06.00 WIB. Seorang bayi mungil perempuan lahir dengan selamat.

Sesampai di Pelabuhan Tanjung Priok ia langsung dirujuk ke Rumah Sakit Koja Jakarta Utara, karena kondisinya masih sangat lemah.

Peduli Buruh Migran menuntut negara untuk dengan segera melakukan Ratifikasi Konvensi Migran agar tidak ada lagi buruh migran Indonesia yang mendapat penyiksaan di dalam penjara.

Ditulis oleh Lily Pujiati, berdasarkan cerita dari Ani Pangadi.
Foto: Peduli Buruh Migran

Leave a Reply