Tidak Ada Perlindungan Negara, Buruh Migran Ditangkap di Rumah Sakit


Rosilawati pergi ke Malaysia lewat sponsor/calo dari Lombok Timur. Ia dibawa ke Medan dengan perjalanan melalui darat. Sesampai di Medan ia ditampung di penampungan PJTKI selama 1 bulan. Ia dibuatkan paspor dengan alamat yang dipalsukan. Semua dokumen mengenai identitas dirinya dibuat di Medan. Setelah semua surat-suratnya selesai, dengan memakai visa turis ia diberangkatkan PJTKI dan sponsornya ke Malaysia melalui Pelabuhan Belawan dengan menggunakan kapal fery. Sebelum sampai di pantai/pelabuhan kecil ia dipindah ke kapal tongkang (proses pemindahannya dilakukan di tengah laut), lalu dibawa ke Malaysia.

Sesampai di pelabuhan kecil ia dijemput agen dari Malaysia dan dibawa ke rumah majikan di Kuala Lumpur. Di sana ia dipekerjakan sebagai pembantu runah tangga. Pekerjaannya sangatlah berat. Ia diharuskan bekerja mulai dari jam 5 pagi hingga jam 12 malam baru beristirahat. Untuk sekedar makan, ia hanya diperbolehkan sebanyak dua kali yaitu siang, jam satu dan malam, jam sembilan.

Semua pekerjaan rumah ia lakukan seorang diri, mulai dari mencuci dua buah mobil, mencuci baju dan setrika hingga membersihkan rumah. Apabila lelah, ia tidak diperbolehkan beristirahat.

Karena pekerjaannya yang sangat berat dan makanpun kurang, Rosilawati akhirnya jatuh sakit. Oleh majikannya dia dimasukkan ke rumah sakit di Kuala Lumpur. Namun hingga satu bulan dirawat majikannya tidak pernah menjengguk bahkan biaya rumah sakitpun tidak dibayar. Akibat dokumennya dibawa majikan maka ia dianggap pendatang haram.

Dalam kondisi masih belum bisa berjalan ia ditangkap polisi dan dibawa ke Penjara Semenyih selama tiga hari. Setelah itu ia dipindahkan ke Pasir Gudang selama 3 hari. Dari sana ia kemudian dipulangkan ke Tanjung Pinang dan dibawa ke Pelabuhan Tanjung Priok.

Setiba di Pelabuhan Tanjung Priok ia dirujuk ke RSUD Koja, Jakarta Utara hingga sekarang.

(Lily Pujiati, Koordinator Peduli Buruh Migran)

Foto:Peduli Buruh Migran

Leave a Reply