Amsori Ditolak di Rumah Sakit Pemerintah


Satu lagi kawan buruh migran Indonesia yang dideportasi dari Malaysia meninggal dunia di Jakarta.
Pada hari Jumat tanggal 15 Mei 2009, Amsori 34 Tahun asal Desa Sari Kemuning, Dusun Krajan, Kec. Sundoro, Lumajang tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Ia datang bersama 215 TKI lainnya. Dalam kondisi yang sudah sangat lemah ia dipapah beberapa kawannya turun dari kapal Sirimau yang membawanya dari Tanjung Pinang.

Masuk ruang khusus untuk buruh migran, ia langsung dibawa ke Kesehatan Pelabuhan untuk diperiksa. Alhasil ia harus dirujuk ke rumah sakit rujukan pemerintah yaitu RSUD Koja Jakarta Utara. Tiga hari ia berada di sana, pihak rumah sakit merasa keberatan dan harus dirujuk ke rumah sakit lain dengan alasan kamar penuh serta pasien minta pulang. Dikarenakan kondisi medisnya tidak memungkinkan untuk dipulangkan ke Lumajang maka pada hari Senin tanggal 18 Mei 2009 ia dirujuk ke RSPI Sulianti Saroso untuk mendapatkan perawatan. Beberapa jam dirawat di rumah sakit, Amsori meninggal dunia tepatnya pada tanggal 19 mei 2009 pukul 20.30 WIB.

Beruntung kami dapat menemukan alamat keluarganya di Lumajang atas bantuan kawan-kawan dari Laskar Hijau dan Solidaritas Buruh Migran Lumajang, kami dapat membawa keluarganya ke Jakarta untuk menjemput jenazah Amsori. Namun kendala masih datang juga, pihak RSPI Sulianti Saroso mengharuskan kami membayar satu juta rupiah untuk membawa jenasah..

Setelah semua administrasi di RSPI Sulianti Saroso selesai, kami pindahkan jenasah ke Rumah Duka St. Carolus. Di sana jenazah mendapatkan layanan yang sangat menusiawi dari mulai memandikan, mengkafani sampai peti matipun dibantu pihak rumah duka.

Dengan bantuan pihak Rumah Duka St. Carolus serta Direktorat BSKTK dan PM, jenazah dapat dipulangkan ke Lumajang pada tanggal 20 Mei 2009 jan 15.00 WIB dan sampai di Lumajang pada tanggal 21 Mei 2009 pada jam 11.30 WIB.

Kami tidak lupa mengucapkan terima kasih atas solidaritas dari kawan-kawan Laskar Hijau dan Solidaritas Buruh Migran Lumajang.

(Lily Pujiati, Peduli Buruh Migran)

Leave a Reply