Dijual saat Usia Anak


Artinius berasal dari NTT. Ia adalah anak keenam dari tujuh bersaudara. Ayahnya bernama Donatus dan ibunya bernama Anastresi. Saat ini berusia 20 tahun. Sejak berumur 12 tahun sudah dijual calo ke PJTKI di Surabaya. Dengan dipalsukan identitasnya, ia dibawa ke Malaysia melalui jalur laut. Mula-mula ia dibawa ke Surabaya dan ditampung beberapa bulan lalu dipindahkan ke Tanjung Pinang. Dari Tanjung Pinang ia dijual ke tekong dan dibawa ke Malaysia.

Tiba di Malaysia ia dipekerjakan di perkebunan sawit dengan upah yang tidak pasti. Kadang satu hari ia diberi 10 Ringgit Malaysia, kadang tidak diberi. Karena belum tahu apa-apa dan tidak mempunyai siapa-siapa, ia pasrah dengan kondisinya.

Selama berada di Malaysia ia tinggal di bilik yang terbuat dari papan di semak/hutan, karena takut apabila tinggal di lingkungan kota (karena ia tidak memiliki dokumen apapun). Ia hanya bekerja dan bekerja, tidak pernah memikirkan untuk bisa pulang ke kampung halamannya. Gaji yang didapatkan hanya cukup untuk makan sehari-hari, bahkan selama 8 tahun bekerja di Malaysia ia tidak mempunyai apa-apa.

Ketika ada razia pasukan Rela, Artinius ketakutan setengah mati. Ia kemudian lari sekuat-kuatnya namun nasib malang menimpa di tengah ia lari tidak melihat ada mobil pasukan yang mengejar dan akhirnya menabrak tepat di kakinya.

Di antara sadar dan tidak sadar, Artinius sudah berada di penjara dengan kaki bengkak. Tanpa ada pengobatan ia dipindah dari penjara satu ke penjara lainnya. Sambil menahan sakit, ia tetap diwajibkan menjalankan hukuman untuk berdiri berjam-jam sambil dijemur.

Satu bulan lebih Artinius menahan sakit dan akhirnya ia dideportasi bersama dengan buruh migran Indonesia lainnya lewat Pasir Gudang menuju Tanjung Pinang dan akhirnya sampai di Tanjung Priok pada 25 Februari 2009. Karena kondisinya sangat lemah ia dirujuk di RSUD Koja dan setelah diperiksa, ia menjalani operasi pemasangan pen (penyangga) di kaki sebelah kiri.

Beberapa waktu kemudian Artinius dipulangkan oleh pihak RSUD Koja, padahal kakinya belum dimungkinkan untuk berjalan. Dengan masih menahan sakit, ia kami bawa ke shelter Peduli Buruh Migran.

Setelah beberapa hari di shelter, Artinius merasakan sakit kaki yang begitu hebat padahal belum waktunya untuk kontrol ke dokter. Karena tidak kuat menahan sakit, kami membawanya ke Pelayanan Kesehatan St. Carolus dengan dukungan pembiayaan dari tangan-tangan penderma yang membantu selama ini.

Begitu diperiksa, Artinius harus menjalankan rawat inap. Ternyata luka bekas operasinya terdapat belatung dan harus segera dibersihkan (akibat operasi di RSUD Koja sebelumnya tidak steril). Keesokan harinya, dokter ortopedi menyarankan untuk dilakukan pemasangan penyangga tambahan karena pemasangan pennya tidak benar (bengkok). Setelah dirawat jalan Carolus, luka bekas operasinya berangsur pulih.

Foto: Peduli Buruh Migran

Leave a Reply