Melanjutkan Harapan dengan Satu Tangan


Mohamad Yunus adalah buruh migran asal Bogor yang mengadu nasib di Serawak, Malaysia. Pertama kali datang, ia bekerja dengan dokumen lengkap dan masih berlaku, namun sayang dokumennya kemudian ditahan majikan sehingga otomatis statusnya disamakan dengan pendatang haram. Suatu waktu ketika sedang bekerja, Yunus mengalami musibah. Baju bagian belakangnya tersangkut pada mesin giling (molen) dan malangnya tangan kirinya pun terhisap masuk ke dalam roda mesin. Dalam kondisi yang sangat kesakitan ia dibawa ke klinik tempatnya bekerja, tapi karena lukanya sangat parah akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Sibu yang beralamat di Jalan Ulu Oya 96000 Sibu.

Selama menjalani perawatan hingga tangan kirinya diamputasi sebatas bahu, baik majikan maupun agen tidak pernah menjenguk sama sekali apalagi memberikan bantuan. Setelah tangan kirinya diamputasi, Yunus tidak pernah mendapatkan perawatan yang layak bahkan dokter tidak memberikan obat apapun. Padahal Yunus masih menerima gaji di tempat ia bekerja namun tidak pernah diberikan padanya.

Yunus dirawat selama 20 hari di Rumah Sakit Sibu. Karena pihak majikan dan agen tidak mengurusnya, oleh dokter rumah sakit akhirnya Yunus dilaporkan ke Polisi Diraja Malaysia. Tanpa ampun lagi dalam keadaan tangannya masih sakit, ia dibawa ke Balai Polisi selama 4 hari (di sini Yunus jarang diberi makan). Pada hari ke-5 Yunus dipindahkan ke penjara. Di dalam penjara pun ia tidak mendapatkan perawatan medis sama sekali bahkan ia diperlakukan sama dengan orang sehat.

Setelah menjalani hukuman beberapa bulan, Yunus dipulangkan bersama 13 TKI melalui Etikong dan dinaikkan kapal laut sampai di Tanjung Priok pada hari Senin tanggal 16 Februari 2009. Karena belum siap dan masih bingung dengan kondisi fisiknya yang sekarang cacat maka ia tidak berani pulang ke rumahnya. Dengan bantuan dari berbagai pihak, Peduli Buruh Migran memberikan pelayanan medis bagi Yunus di Pelayanan Kesehatan St.Carolus. Pemeriksaan medis ulang dilakukan terhadap kondisi tangannya untuk memeriksa apakah perawatan yang baik sudah didapatkannya ketika berada di Malaysia. Dari pemeriksaan itu, dokter menyatakan bahwa Yunus dalam keadaan sehat dan sudah bisa kembali beraktivitas dengan membiasakan diri untuk menggunakan satu tangan. Sebagai bekal untuk masa depannya, Sinar Pelangi membuka kesempatan bagi dirinya untuk mengikuti pelatihan-pelatihan yang disediakan bagi kaum difabel.

(Lily Pujiati, Koordinator Peduli Buruh Migran)

Foto: Peduli Buruh Migran

Leave a Reply