Penghargaan Media Massa Peduli Buruh Migran


Berdasarkan pengamatan selama enam bulan (Juni-Desember 2008) dari masa penerbitan
sejumlah sebelas media massa yang dinominasikan dan diperkuat oleh penilaian dewan juri
yang berkompeten, baik dari sisi telaah media maupun dari sisi pentingnya dari hak-hak
asasi para buruh migran, harian Sinar Harapan meraih predikat media massa terbaik
dalam melaporkan peristiwa-peristiwa yang berdimensi penghormatan pada hak asasi para
buruh migran Indonesia (BMI). AntaraNews.com adalah media yang tersering melaporkan
peristiwa mengenai buruh migran kita.

Dewan juri menetapkan pengamatan dilakukan terhadap 11 media massa yang karena
teknologi modern kini telah memiliki daya jangkau yang jauh lebih luas, lebih cepat
sehingga berpotensi memiliki dampak positif bagi pemajuan kesadaran hak-hak asasi
manusia, jika terus kita dorong dengan memperlihatkan peranan-peranan positifnya. Untuk
gambaran kasarnya, dari bulan Februari sampai Desember 2008 dapat diperkirakan
sejumlah 15 media massa yang kami pantau telah menerbitkan sebanyak rata-rata lebih dari
80 pucuk berita tentang berbagai kondisi buruh migran kita dalam setiap bulannya. Jumlah
ini terkesan cukup banyak karena per hari masyarakat disodori rata-rata antara dua sampai
tiga berita tentang buruh migran. Namun jika dibandingkan dengan keseluruhan berita yang
diterbitkan media massa, proporsi pemberitaan buruh migran ini tak lebih dari 0,28 persen.
Bagaimana kriteria penentuan tingkat kesadaran hak-hak asasi manusia dari kinerja media
massa tersebut dalam melaporkan dan menyajikan masalah-masalah buruh migran?

Pengujian untuk penghargaan ini didasari dua pendekatan, yaitu pendekatan mutu berita
(kualitatif) dan pendekatan banyaknya berita yang diterbitkan (kuantitatif).

1. Mutu (pendekatan kualitatif). Kriteria ini diterapkan untuk meninjau mutu pencarian
dan pergulatan media tersebut dalam menemukan dan mengangkat akar persoalan yang
dialami buruh migran Indonesia. Kriteria ini pada dasarnya dan semestinya merupakan
penggerak utama dari kegiatan penulisan dan penerbitan berita sehingga masyarakat
pembaca mendapatkan hak dasarnya atas informasi publik yang terkait dengan
peristiwa-peristiwa publik, termasuk yang berkaitan dengan buruh migran dari aspek-
aspek kemanusiaannya yang mendalam. Sementara ini ditengarai oleh kalangan
penelaah media, kebanyakan media massa lebih condong memberitakan hal-hal yang
sifatnya sensasional dan dangkal yang terkait dengan kondisi buruh migran. Dengan
mengedepankan mutu pemberitaan, diharapkan penghargaan ini akan mendorong media
massa dan para wartawan untuk tetap setia kepada prinsip-prinsip utama dalam
jurnalistik, tak terkecuali jika pemberitaan itu berkaitan dengan kondisi buruh migran.
1
Penilaian dilakukan pada beberapa berita atau features yang pada hematnya terbaik dan
diterbitkan oleh media massa ternominasi sekitar bulan September 2008. Berdasarkan
pemantauan laporan media yang kami lakukan, selama bulan September 2008 paling
banyak dijumpai berita tentang buruh migran. Bulan September 2008 bertepatan dengan
bulan Ramadhan. Saat itu banyak orang tak terkecuali para buruh migran paling banyak
berhubungan dengan saudara-saudara, tapi sekaligus terungkap paling banyak kejadian
kekerasan yang menyengsarakan nasib buruh migran, terutama yang bekerja di
Malaysia dan Timur Tengah.

Penilaian dilakukan oleh tiga orang juri, yaitu Ignatius Haryanto (peneliti media
massa dari LSPP), Wahyu Susilo (peneliti dan pemerhati buruh migran dari
International NGO Forum on Indonesian Development [INFID]), dan P. Prasetyohadi,
peneliti dari The Institute for Ecosoc Rights.

Dari sebelas media yang dinominasikan, Sinar Harapan memiliki kelebihan yaitu
menuliskan berita dengan cukup mendalam dan menampakkan kekuatan rasa ingin tahu
untuk memahami persoalan yang menimpa para buruh migran. Sinar Harapan juga
menampilkan keberimbangan dalam memberitakan masalah ini dengan menyertakan
berbagai sumber dalam tulisannya tanpa kehilangan “keberpihakan” pada warga
masyarakat lemah yang diperbudak. Sinar Harapan tidak hanya menyingkap
pengalaman pahit yang dialami buruh migran, namun ia juga memberitakan contoh-
contoh hasil kerja keras para buruh migran tanpa terjebak dalam gambaran simplistik
keberhasilan finansial.
Nilai
No Media Massa
Juri I Juri 2 Juri 3 Total
1 Sinar Harapan 210 210 230 650
2 Kompas.com 220 200 225 645
3 Suara Pembaruan 200 200 230 630
4 Suara Merdeka 205 160 245 610
5 Detik.com 215 180 215 610
6 Antara News 200 180 220 600
7 Media Indonesia 205 180 210 595
8 Okezone.com 200 150 225 575
9 Tempointeraktif 205 150 210 565
10 Liputan6.com 195 130 230 555
11 Republika 200 150 200 550

2. Keseringan (pendekatan kuantitatif)
a. Frekuensi dalam melaporkan masalah-masalah buruh migran dalam rentang waktu
Juni-Desember 2008.
b. Proporsionalitas dari kuantitas berita berbanding dengan kapasitas media yang
bersangkutan dalam menurunkan berita setiap bulan.

Tabel berikut ini mendetilkan proporsi masing-masing media massa yang dinominasi-
kan dalam mengangkat masalah buruh migran dalam total penerbitannya. Tabel ini juga
menggambarkan urutan atau tingkat proporsionalitas dari pemberitaan mereka tentang
masalah buruh migran.

No Media Rata-rata Rata-rata Berita Proporsi (%)
Berita Umum Buruh Migran per-
per-bulanan bulan
1 Antaranews.com 3030 15 0,49
2 Liputan6.com 1710 6,7 0,39
3 Suara Merdeka 1830 7 0,38
4 Detik.com 3600 12,3 0,34
5 Republika 2631 9 0,34
6 Tempointeraktif 3510 9,5 0,27
7 Kompas.com 5010 13 0,26
8 Sinar Harapan 2040 5 0,24
9 Media Indonesia 3480 6,7 0,19
10 Suara Pembaruan 2010 3,2 0,16
11 Okezone.com 6480 5,2 0,08

Meskipun media-media lain cukup sering memberitakan masalah buruh migran,
Antaranews.com adalah media massa yang paling tinggi proporsinya dalam
memberitakan masalah ini. Rata-rata dijumpai 15 pucuk berita tentang buruh migran di
antara rata-rata 3.030 berita umum yang diterbitkan setiap bulan. Ini sebuah prestasi yang
wajib kita hargai. Namun, kami juga perlu mendorong Antaranews.com untuk lebih
condong memberitakan masalah buruh migran dengan tidak hanya bersumber dari
informasi pemerintah. Dari hitungan kami temukan sejumlah lebih dari 60 persen dari
berita-berita dari AntaraNews.com lebih condong bersumber dari para pejabat pemerintah.

Akhirulkalam, kami hendak mengajak dan mendorong media massa untuk lebih peduli
pada hak-hak Buruh Migran Indonesia. Pemberian penghargaan ini adalah ucapan
terimakasih dari para pendukung gerakan perjuangan Buruh Migran Indonesia kepada
media massa yang selama ini mengangkat, memberitakan dan menyampaikan suara buruh
migran kepada khalayak sehingga masalah buruh migran memperoleh perhatian
masyarakat.

Kepada para penerima penghargaan karena capaian jurnalistik mereka, kami ucapkan
selamat.

Terima kasih
Dewan Juri

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (Komnas HAM)
Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP)
Lembaga Bantuan Hukum-Jakarta
The Institute for Ecosoc Rights

Foto: ANTARA News
Keterangan foto

Dari kiri ke kanan: Anton Santoso dari Multimedia Gateway ANTARA yang mengelola antara.co.id; Hanif Suranto, juri dari Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LPSPP); Wahyu Dramastuti dari harian Sinar Harapan; dan Direktur Institute Ecosoc Right (Ecosoc) Sri Palupi.

Comments
  1. amboupe/olenx

Leave a Reply